Rana

Sedikit retak,
semarak pergerakan serentak yang terjadi di luar kotak. Sesekali meracau, meniru air payau yang tergenang di luar danau. 

image

Rencana yang dirancang di atas kelakar ini di luar nalar, di bawah sadar. 

“Bukankah baiknya bersandar sebentar?”
“Supaya sadar dekapannya kian memendar?”

Hangat
Erat
Basah

“Kenapa menangis?”
“Sedekat ini tapi tak kunjung sampai.”

Berpulang

Ketika pergi adalah pulang, apakah mungkin pulang selalu setara dengan tenang?

Kala satu,
disematkannya raga ke dalam rasa yang dipenuhi oleh rahasia. Angka yang sudah dipastikan, laju dan tuju yang dimuat dalam suatu sajian.

Satu waktu,
dipetakan pertanyaan dalam pernyataan. Lalu, merasa miliki kuasa dalam langkah yang sudah ditentukan oleh Sang Esa. Tak sadar atas dasar untuk bersandar, rasa lapar pun tak surut memendar.

Waktu penentu,
bisa jadi lusa atau mungkin dua tahun lalu. Mengukur yang tak miliki alur, upaya yang luput dilahap oleh rasa syukur.

Jangan terlalu banyak bersedih, seluruh kisah tertulis pasti dengan penuh kasih.

Sekira

Sedikitnya 29,63% masa hidup. Dihitung secara gamblang berdasarkan riwayat yang rasanya cukup terikat namun, dirasa layaknya kilat.

Terlahir dalam sosok manusia yang dinilai seringkali melupakan cara mengukur usia, berakhir dengan sia-sia di anjungan bersama kawanan anestesia. Terbius, kaku, seratus.

Tidak perlu ketus, ini lebih dari satu. Jadi, yang perlu diperhatikan tinggal kurang dari tiga.

Riang atas upaya pandai, sangkut pandai dalam memuat riang. Sudah, cukup berdalihnya.

Pelayaran kecil di pesisir laut biru; kala rinai turun dari langit yang menuju abu. Rintik, tak kasat mata rasa diperalat, ikan berterbangan. Cantik, meski entah didasari buram atau mungkin muram, atau bisa jadi padu padan kelam menuju malam.

image

Memuat satuan yang sama untuk diolah sedemikian guna, lampaui padanan yang kian lambat pudar merona. Sekian pembilang dibatasi oleh para penyebut, berupaya setara untuk menghasilkan satu yang rabut.

Siapa yang sudi terkonversi?

Setiap Selasa 16.00 di Cengkerama, ada agenda sesi menulis yang dirancang oleh Tatam & Tutun. Dua puluh Desember kemarin, aku ajak dua kolegaku, Ben dan Qisha, untuk mampir ikutan. Alesannya adalah:

1. Aku mau dua rekananku ini bisa luapin emosinya lebih luas, karena meski mereka suka bicara dan cerita, aku rasa ada beberapa yang ditahan (sok tau~)
2. Sekaligus, siapa tau bisa memengaruhi pola tulis mereka untuk rancang report kerjaan hahahahahaha
3. Terus, mau nantangin diri sendiri untuk nulis secara spontan tanpa draf

Skema sesi ini seru sih; semua peserta diminta sampeiin satu kata, setiap kata terpilih itu dirangkai jadi tiga pilihan kalimat, dari tiga pilihan akan terpilih satu yang mana jadi tema tulisan yang bakal dibuat.

Nah, tema yang terpilih kemarin itu:

“Lamunan di kening berhenti untuk berekreasi.”

Karena dalam kalimat itu nggak ada tanda baca pemisah, bebas mau tangkap segimana pun maksudnya. Tulisan yang dibuat pun bebas bentukannya mau gimana; ada yang buat cerpen, ada yang diisi sama tiga kalimat.

Setelah masing-masing tulisan selesai, dikasih tuh ke kawan sebelahnya lalu dibacain secara berurutan terus ditanggapin sama si pembaca. Dilanjut tanggapan dari yang lainnya, ditutup oleh si penulis dengan jelasin maksud sebenarnya. Favoritku cerpen si Tutun. Mantep tulisan paling panjang.

Hasil tulisanku dari sesi menulis ini ada di bawah unggahan ini. Hohoho. Seru.

Lekat

Sengketa rasa yang direpresentasikan oleh satu atau seringkali sedikitnya dua kening. Merengut, tak kenal tuju, meraya gemilang, terenggut.

Menuju apa?

image

Laksana utuh yang menyeru, tak kenal luluh meski telah larut berlalu. Asam, larutan ini terlalu masam – Bebal, aku tidak membual.

Memangnya kau pikir bisa habisi semua tanpa merasa mual?

Hampiri jemu akan kelakar yang menyemu, mengurai perlahan hingga akhirnya tertanam. Diretas batas, mengutuk tempurung yang kerap kali melambung.

image

Pekat, ini terlalu nikmat. Tercerai utuh atas satu atau mungkin tujuh, hingga melerai penuh meski belum juga sepuluh.

Mau sampai kapan mengelabui diri seolah mengukuh?

Dari sekian banyak cerita, dalam kurun tahun ini cukup dipenuhi dengan topik isu dalam rumah tangga. Dari pihak pertama, pihak kedua, bahkan dari perantaranya. Sedihnya adalah mayoritas pemicunya seksualitas.

Tanpa maksud mendiskreditkan apa pun,

“Kenapa bisa masih saling menutupi padahal di atas ranjang kalian sudah saling menelanjangi setelah berikrar sehidup-semati?”

Maksudnya, ketakukan apa ya yang dirasa sampai nggak berani membuka untuk hal yang hanya dilakukan berdua dan nggak diketahui siapa-siapa selain mereka (dan Tuhannya)? Atau akunya aja yang belum nyampe kali ya? hehe misteri kehidupan~

Selapis Kompilasi

Putar lagu sembari bersih-bersih rumah, lagu pertama yang masuk kompilasi hari ini adalah Aku Ini Punya Siapa dari January Christy.

image

Dilanjut sama Kalibata, 2012 yang dinyanyiin sama Perunggu.

image

Galau betul, bos?  ヽ( ・∀・)ノ┌┛Σ(ノ `Д´)ノ

Tapi keasyikan, jadinya “S E N J A” di Seberang Nusa-nya Danilla masuk ke kompilasi hari ini sembari nemenin perjalanan pergi.

image

Bulan penuh, jalan kaki kurang lebih 3,2 km menuju rumah. Tanjakan sariwangi mampus. Gadog yang dibawain sama Texpack & Edo Wallad ditambahin deh ke kompilasi hari ini.

image

Kayaknya cukup, lampu-lampu di rumah masih banyak yang padam. Kita akhiri sama Mengunci Ingatan dari Barasuara ya biar semakin menjadi-jadi. Siapa tahu sedang senggang.

image

SEPAKAT TIDAK BERSEPAKAT

Reka sedemikian rupa guna atur jalur yang dirasa semrawut. Malamnya, tak juga luput akan kalut dalam genggaman piranti elektronika yang dinanti untuk berdialektika. 

Atas dasar kepastian dalam kematian dan kehidupan yang dinantikan, tanpa didasari konteks, pandai dalam berandai-andai itu bukankah sesuatu yang tak perlu dielu-elukan? 

image

Sedikitnya adalah dua kepala yang menyatu untuk pahami utara dalam satu udara. Diseleksi satu putaran sampan sedalam riakan ombak. Tak luput akan renjana yang dihampiri kabut asap tak padan mewarna. 

Kelabu mengabur pikir dengan akhiran tanya, berakhir menguap sebab penanda. Mari, melengking secara samar menyerupa adegan sekar yang mekar.

“Mampukah mereka tepat pada perspektif yang sama?”

Membabi buta mengarah tanpa susunan kata. Sekian kalinya mengolah, sekian kalinya berulah.

“Kalau bisa karena terbiasa, aku ini aku yang keberapa?”

Telisik masa atas paksaan rasa, memutari pola tanpa ajuan kepala. Lepas dan kebas. Merana dalam kelana. Aku (kita semua) ingin pulang dengan tenang.

sembari baca, kuanjurkan sekalian juga putar video musik di bawah ini. Harapannya sih biar kebayang dan siapa tau kehipnotis juga.

——–

Jadi, ada satu lagu yang nyangkut akhir-akhir ini. Nemu di salah satu aplikasi pemutar lagu (iya, ada di Spotify kok), judulnya Swivel dibawain sama Garside. Musiknya sih rasa-rasa masa kampus awal gitu, masa kasmaran di masa remaja akhir. Dari selama nyangkut ini, belum pernah cari tau Garside nih siapa sih, band apaan dan dari mana. Lagu yang didenger pun baru satu judul ini aja. 

Sering diputar pertama setiap kali mau denger musik. Akhirnya tadi kepikiran alesan kenapa lagu ini bisa nyangkut — aku mau bisa selantang vokalis Garside ini untuk nyampein lirik di reff-nya — bukan semacam remaja baru begér, tapi, aku pribadi mengartikan “you” di reff lagu ini sebagai siapa pun; kolega, lembaga pemberi beasiswa, orang di sekitar, kawan-kawan, anabul-anabul di jalanan, ya pokoknya siapa pun. 

“but it doesn’t take so long to realize, there is something you can’t deny. it’s me~”

Berarti yang nyampein lirik ini tuh sadar betul potensinya nggak sih? Di mana ya bisa dapet kepercayaan diri sebesar itu?

“banyak kok caranya, kamunya aja kapan mau mulai” ucap Ryani Dua kepada Ryani Satu.  

Melaju tanpa tuju. Memuai dalam kadar yang sesuai. Diramu hingga akhirnya bertamu. Meski seringkali terdistraksi akan batasan galaksi.

image

Memangnya kalian tau kelapa muda yang kalian minum itu umurnya berapa?

Cendera mata yang tak kasat mata, dipenuhi dengan dilematis yang tak realistis. Sekali atau berkali, menuan tanpa dibekali. Sesat, di sini sesak. Baik dicintai maupun mencintai, akan selalu memilukan ketika dilakukan sepihak, bukan?

Keluh K/Resah

Kakiku mati rasa, namun pikiranku meleluasa. 

Itu yang selalu aku teguhkan ke dalam pikiran karena jalan-jalan sendiri saat langit gelap tuh enak banget ya? Meski selalu ada lontaran kekhawatiran dari berbagai macam sudut dan pihak, kepercayaan diri akan dilindungi selalu menang di sesi ucap-cuap. Ditambah, Bandung sebersahabat itu, kok. 

Kemarinan, nggak bisa dihitung pasti berapa lama lalu, rasa takut yang hadir di pikiran jauh lebih-lebih-lebih besar dari biasanya. Kalau lagi jawab soal esai matematika waktu sekolah kurang lebih gini:

Dik: 
tidak mengetahui apa yang diinginkan dan kebingungan menetapkan pilihan
Dit: 
kunaon ai maneh?
Dij:
((( kabur )))

Ya gitu, nggak jelas, sama diri sendiri aja berantemnya bisa 24/7.

Meski sebetulnya aku tau betul apa yang mengawali ketakutan ini, tapi nggak ada yang lebih bisa diatur selain rasa dan pikiran diri sendiri. “ya gitu sob, Ryani mah denial terus” ucap lebih dari sekian kawan. Tapi sesekali aku suka sebel juga sih sama orang yang sok tau atas pola pikirku. Tapi karena yang bisa lebih baik dalam menilai diri itu orang lain, berarti ada yang salah dari penyampaianku. Susah juga ye komunikasi, padahal penting. 

Sekian daya dan upaya yang udah dicoba, akhirnya aku berusaha untuk lawan ketakutan itu. Dua kenalan menyediakan wadah untuk aksi ini. Dari dua wadah ini, kesimpulannya adalah:
Fokus untuk meluaskan area pandang, selalu tanem ke diri sendiri bahwa “kita tuh murid loh, semua di sekitaran kita selalu ngajarin hal-hal untuk tetap hidup” dan tidak lupa buat batasan yang jelas dan fokus, iya fokus. Optimasi momentum. 

Meliar, seraya Belang Bayah. Ini toh yang orang-orang bilang tahapan pendewasaan di usia krusial, sampai buat tulisan ini muncul meski dua tulisan serupa sebelumnya sudah ditetapkan hilang.